Kamis, 02 Februari 2012

IPK pertama gue !!!


ini Kartu hasil study gue di semester PERTAMA !!




kalo ini nilai murni UAS gue sebelum dipoles macem2 sama dosen2 tercintah :*

Rabu, 01 Februari 2012

Lantai Edukasi Museum Wayang

Museum Wayang Indonesia yang berlokasi di Jl. Pintu Besar Utara No. 27 merupakan museum yang menyimpan koleksi wayang dari daerah-daerah di Indonesia dan juga luar negeri. Jumlah koleksinya kurang lebih 5147 buah yang diperoleh dari pembelian, hibah, sumbangan dan titipan. Awalnya bangunan museum wayang ini merupakan lokasi gereja tua yang didirikan VOC pada tahun 1640 yang sampai tahun 1973 berfungsi sebagai tempat untuk peribadatan penduduk sipil dan tentara bangsa Belanda yang tinggal di Batavia.

Gagasan didirikannya Museum Wayang adalah ketika Gubernur DKI Jakarta H. Ali Sadikin ketika menghadiri pecan Wayang II tahun 1974. Dengan dukungan panitia acara tersebut, gubernur DKI Jakarta dengan para pecinta wayang, pemerintah DKI Jakarta menunjuk gedung yang terletak di Jl. Pintu Besar Utara No. 27 sebagai Museum Wayang dan museum tersebut diresmikan pada tanggal 13 Agustus 1975 oleh Gubernur DKI Jakarta H. Ali Sadikin. Museum Wayang merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas Kebudayaan dan Permuseuman di bidang perwayangan terakhir berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Propinsi DKI Jakarta Nomor 134 tahun 2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Propinsi DKI Jakarta (BAB VIII, Pasal 33, 1)


Namun kali ini kita tidak akan membahas tentang sejarah museum wayang ataupun wayangnya itu sendiri melainkan kita akan membahas tentang salah satu keunikan yang terdapat pada Museum Wayang. Pernah kah kalian memperhatikan dengan seksama tentang museum wayang secara terperinci? Apa keunikan yang kalian temukan pada Museum Wayang? Salah satu keunikan yang terdapat pada Museum Wayang yang mungkin saja jarang ada orang yang menyadarinya adalah gambar yang terdapat pada lantai museum yang berada di lantai 3.





Beberapa bentuk persegi panjang berukuran 300cm x 500cm yang berada di lantai museum tersebut didalamnya terdapat contoh-contoh gambar bagian-bagian tubuh wayang yang berbeda-beda. Gambar yang tersebut antara lain: bentuk jari, bentuk wajah, bentuk mata, bentuk pinggul, bentuk hidung (irung-irungan), bentuk kaki (suku), bentuk mulut (cangkeman), badan dengan baju, selendang dan kalung, bentuk badan, bentuk tutup kepala, bentuk gelung rambut putri, dan masih banyak lagi.

Riva’i (42) pegawai Museum Wayang mengungkapkan bahwa tujuan adanya gambar pada lantai tersebut adalah untuk memberikan dan berbagi pengetahuan seputar perwayangan. Karena telah kita ketahui bahwa wayang merupakan salah satu asset budaya bangsa Indonesia. Dan kenapa gambar-gambar tersebut adanya dilantai museum karena ingin memberikan keunikan tersendiri pada museum wayang. Tidak hanya memamerkan berbagai jenis wayang tapi juga ingin memberikan pengetahuan lebih tentang wayang Indonesia itu sendiri.

Sebagian besar pengunjung museum wayang ini memang kurang menyadari adanya lantai edukasi ini. Selain karena letaknya berada di lantai museum yamg jarang diperhatikan oleh pengunjung selain itu juga karena posisinya yang menyerong dan ada sebagian gambar yang tertutupi oleh papan-papan penyekat.

Namun tidak sedikit juga orang yang menyadari keberadaan lantai edukasi ini. Seperti Mahmud misalnya, siswa kelas XI dari Bekasi ini tertarik dengan keunikan yang ada di museum wayang ini. Ia berpendapat bahwa dengan adanya lantai edukasi wayang ini, ia menjadi lebih tahu seputar wayang khususnya bagian-bagian dari wayang itu sendiri yang merupakan warisan budaya Indonesia. “gak nyangka ternyata bagian-bagian tubuh dari wayang itu beda-beda. Misalnya dibagian penggambaran hidungnya aja ada beberapa macem. Unik banget buat dipelajari!” perjelas Mahmud tentang tanggapan terhadap lantai edukasi tersebut.

Minggu, 29 Januari 2012

ARTIS dan KACAMATA-nya

Hey guys, i,m back with my article! Setelah sekian lama vacum (bukan vacum cleaner) dari dunia peng-artikelan *ceileh bahasa gue* sekarang gue balik lagi buat ngebahas suatu bahasan yang baru aja gue sadarin. Oke langsung bahas aja yuk !
Pernah ga sih kalian perhatiin makin kesini makin banyak yang pake kacamata? Tapi bukan cuma kacamata minus ato plus tapi kacamata yang cuma buat sekedar gaya aja. Mulai dari kalangan anak-anak yang terlanjur gaul sampai ke kalangan artis jadi banyak yang seneng pake kacamata. Coba deh kalian perhatiin disekitar kalian, entah temen, kakak, adik, gebetan ato pacar kalian terutama LAKI-LAKI mulai maniac sama barang yang satu ini.

Sekarang pembahasan ini kita fokuskan ke para artis yang sering nongol di TV. Pernah ga sih nyadarin kalo kebanyakan ato hampir semua artis yang lagi tampil secara live pada pake kacamata? Padahal kalo diperhatiin sepintas cuacanya fine-fine aja, dalam arti sinar matahari ga terlalu mentereng banget ato padahal mereka tampilnya di dalam ruangan. Nah... hal ini nih yang pengen banget gue bahas bareng temen-temen gue. Gue sempet nanyain kebeberapa temen gue kaya gini nih:

“menurut lu kenapa sih artis ato penyanyi kalo tampil live kebanyakan pake kacamata?”


Dan respon dari temen-teman gue pun macem-macem, diantaranya nih...

“hanya untuk gaya... tren biar performnya kereen” (Herawati)

“silau kali. Taw matanya bengkak karena kurang tidur kebanyakan kerja” - @ariswinardy

“biar lebih kece B)” - @jeanchukong

“jaga images cz matanya masih ngantuk. Pengen bikin sensasi yang sesuatu” - @deacubbyendalov

“buat ngumpetin rasa cape dia kayanya mah.. cape kan biasanya keliatan dari mata..” - @ilhamafriansyah

Nah dari beberapa pendapat temen-temen gue itu udah jelas kali ya kalo artis-artis yang punya segudang kesibukan mulai dari manggung sana-sini sampai sinetron striping juga manusia yang punya kekurangan. Kebanyakan dari mereka pake kacamata karena untuk menutupi matanya yang sembab akibat kurang tidur seperti pendapat salah satu sahabat gue ini:

”ehm, bisa ja buat gaya atau buat nutupin sembab2 di matanya, kan banyak artis yang manggung sana sini, jadi ke forsir waktu2nya apalagi buat sekedar merem, susah..” (Aska Wibianto)

Kacamata yang dipake pun memiliki berbagai macam bentuk dan ukuran. Ada yang bentuknya bulat, kotak, oval dan bentuk-bentuk lain yang unik. Sedangkan untuk ukurannya pun macem-macem mulai dari kacamata sekecil boboho sampe segede kaca nako. Dari bentuk dan ukuran itulah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk memakainya. Sekarang ini model kacamata yang lagi trend balik lagi ke jaman-jamannya bokap nyokap kita di era ’80-an. Model kacamata jengkol ato yang gue bilang kaca nako itu sekarang lebih banyak peminatnya, apalagi sekarang modelnya lebih divariasiin dan warnanya pun banyak pilihannya.

Oh iya kalian tau ga, ada artis yang jadi ketergantungan pake kacamata dan bahkan katanya sampai mempengaruhi penglihatannya kalo dia ga pake kacamata. Kalian pasti tau dong siapa orangnya? Yap, Ian Kasela. Vokalis dari grup band Radja ini tidak bisa keluar rumah tanpa memakai kacamata hitamnya, bahkan dirumahnya pun ia tetap memakainya. Selain itu koleksi kacamata yang ia miliki pun sudah mencapai jumlah yang luar biasa. Mulai dari kacamata yang banyak dijual diemperan toko yang harganya 25 ribuan sampe jutaan pun dia punya. WOW!!

Gue punya sedikit tips buat kalian yang mau pake kacamata.

1. Untuk pemilihan ukuran kacamata sesuaikan dengan bentuk wajah kalian. Jangan sampe salah pake coz nanti akan berefek sama penampilan kalian. Untuk yang bentuk wajahnya bulat gue saranin pake kacamata yang bentuknya oval atau kotak dan untuk wajah oval ga ada salahnya buat pake kacamata yang model kaca nako biar ada sedikit perpaduan pada wajah kalian yang panjang.

2. Warna kacamata sesuaikan dengan warna kulit dan kalo bisa sesuaikan dengan pakaian dan acaranya. Kalo pada kacamata itu terdiri dari beberapa warna pilihlah warna yang kiranya ga terlalu nabrak banget coz biar enak diliat juga.

3. Buat yang punya warna kulit sedikit ato bahkan gelap *kaya gue* jangan sekali-kali pake warna bingkai yang mentereng. Contohnya: putih. Pake warna yang relatif gelap kaya abu-abu, cokelat ato hitam.

4. Pakailah bentuk kacamata yang normal maksudnya jangan terlalu neko-neko. Jangan terlalu berpatok pada yang kita inginkan tapi inget ke poin-poin sebelumnya ya!

Nah... sekarang udah jelas banget kan kenapa sekarang artis-artis pake kacamata kalo lagi perform live? Itu karena mereka menutupi matanya yang sembab akibat kurang istirahat dan ga sedikit juga yang pake kacamata hanya untuk gaya demi memaksimalkan penampilannya ato menutupi kekurangan mereka. Buat kalian yang mau bergaya seperti artis-artis kita ga ada salahnnya ko selama kalian enjoy dan untuk penampilan kalian no problem. Tapi ingat jangan terlalu berlebihan coz nanti bukannya keliatan kece malah keliatan aneh.

Jumat, 27 Januari 2012

Kisah si anak buruh

Keinginan utama pelajar SMA setelah lulus adalah melanjutkan pendidikan dan bekerja, begitupun denganku. Namaku Adi Pratama, siswa kelas XII di salah satu SMA di Sukabumi. Keinginanku untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi merupakan suatu impian yang sedari kecil aku inginkan, menjadi salah satu Mahasiswa di Universitas terkemuka di Indonesia. Merupakan suatu kebanggaan yang tak ternilai dalam hidupku.

Seusai pelaksanaan Ujian Nasional yang merupakan kegiatan tolak ukur kemampuan akademik pelajar di Indonesia ini, teman-temanku mulai sibuk mempersiapkan segala sesuatunya yang berhubungan dengan kehidupannya setelah resmi menyandang gelar alumni pelajar SMA. Ada yang sibuk mencari informasi lowongan pekerjaan dan ada pula yang menyiapkan dokumen-dokumen untuk melanjutkan sekolahnya, tapi tidak denganku. Meskipun aku sangat bercita-cita menjadi seorang Mahasiswa di sebuah Institusi Pendidikan ternama namun keinginanku itu sepertinya harus ku pendam dalam-dalam untuk saat ini.


“ribet banget ya yang mau ikut SMNPTN” ledekku melihat Tika teman sekelasku yang sedang kebingungan memilah-milah dokumen yang akan dijadikan persyaratan.
“eh Adi, hehe. Iya nih banyak banget persyaratannya, bikin pusing”
“perlu bantuan?”
“hem... makasih di, udah mau selesai kok ini”
“oke oke, telat ya nawarin bantuannya?”
“ga ko, di. Eh bukannya lo mau lanjutin kuliah juga ya? Ko santai-santai aja?”
“pengennya... tapi kayanya ga sekarang deh”
“loh kenapa?”
“belum ada biaya...” jawabku tertunduk.

impianku menemukan hambatannya. Masalah finansial keluargaku memang tidak bisa ditutupi. Bapak hanyalah seorang buruh serabutan dan Ibuku seorang buruh cuci yang tidak memiliki penghasilan tetap. Aku sangat tidak tega bila harus melihat bapak dan ibu terus menerus bekerja di umurnya yang hampir setengah abad.

Seseorang memanggilku dan membuyarkan semua lamunanku, dan itu ternyata bu Dewi guru Bimbingan Konselingku. Ia menawarkan beasiswa atas prestasiku selama 3 tahun ini.

“gimana Adi?”
“sebenernya sih pengen bu tapi ibu kan tau sendiri keadaan keluarga saya bu. Saya masih punya 2 adik yang lebih memerlukan biaya untuk sekolahnya, jadi saya fikir untuk sekarang ini saya mau kerja dulu bu”
“baiklah kalau begitu mau kamu, ibu bantu cari lowongan pekerjaan yang cocok sama kamu”
“makasih bu”

Setelah konsultasi dadakan dengan bu Dewi membuatku sedikit tenang karena beliau akan membantuku mencarikan pekerjaan untukku. Disamping itu rasa menyesal menghinggapiku karena telah menolak beasiswa yang telah beliau tawarkan padaku. Namun apa daya karena keadaanku yang tidak memungkinkan membuatku mengubur semua keegoisanku. Persyaratan-persyaratan yang diperlukan untuk melamar pekerjaan mulai kupersiapkan mulai dari surat lamaran, dan surat-surat yang lainnya. Dengan bermodalkan niat dan keinginan membahagiakan bapak dan ibu aku siap untuk terjun kedunia kerja.

Beberapa hari kemudian bu Dewi memberikan kabar bahwa salah satu perusahaan sedang membutuhkan pegawai baru untuk bagian Accounting.

“begitu mendengar kabar ini ibu langsung inget sama kamu, di. Besok lamarannya kasih ke ibu ya”
Mendengar kabar baik itu tidak akan ku sia-siakan. Sepulang sekolah aku segera siapkan semua yang dibutuhkan untuk memenuhi persyaratan itu.
“lagi ngapain mas?” tanya ibu yang sedari tadi memperhatikan
“ini bu nyiapin persyaratan buat ngelamar kerja besok”
“kamu jadinya kerja mas? Bukannya dari dulu kamu maunya kuliah?”
“iya sih bu, tapi setelah difikir-fikir lagi mendingan mas kuliah dulu bu supaya bisa bantu bapak sama ibu”

Setelah mendengar penjelasanku ibu pun mengerti akan kemauanku ini. Keesokan harinya aku memberikan lamaran pekerjaanku ini kepada bu Dewi sesuai dengan perintahnya. Sekarang tinggal memaksimalkan doa untuk hasil yang maksimal pula.

Berminggu-minggu aku menunggu kabar dari perusahaan tersebut. Sampai akhirnya seseorang menghubungiku dan memberitahu bahwa besok aku harus datang untuk tahap wawancara. Perasaan sangat senang kurasakan saat ini, pintu menuju dunia baru mulai terbuka.
Kali ini harus bisa, optimis Adi!
Kabar baik ini aku sampaikan pada bapak dan ibu, sesuai dugaanku mereka turut senang mendengar kabar ini. Dukungan dari keluarga pun mengalir deras yang membuatku makin semangat dan optimis menghadapi wawancara besok. Di pagi buta seperti biasa aku sudah bangun dan membantu ibu merapihkan rumah. Setelah itu barulah aku mempersiapkan diriku untuk menghadapi hari ini.

“nanti kamu jangan gugup ya mas, santai aja. Jangan lupa berdo’a”
“iya bu pasti”

Nasehat ibu sebelum aku beranjak dari rumah menuju tempat tujuanku. Aku berpamitan dan memohon doa restu ibu dan bapak dan segera pergi. Sepanjang perjalanan mataku tak lepas dari petunjuk jalan yang diberikan bu Dewi padaku, dan akhirnya aku sampai pada tempat yang dimaksud dalam alamat itu. PT. Impack Group, nama yang terpampang jelas didepan gerbang. Tanpa ragu aku memasuki gedung pencakar langit itu. Sesampainya didalam aku menanyakan tentang wawancara untuk calon karyawan baru.

“di lantai 3 mas, nanti mas bisa bertemu dengan Pak Yanto bagian HRD”

Tanpa membuang waktu lagi aku segera menuju tempat yang dimaksud. Rasa gugup mulai menyelimuti diriku. Ketika sampai aku langsung dipersilahkan masuk ke ruangan pak Yanto yang ternyata adalah kepala bagian HRD. Saat proses wawancara berlangsung aku menjawab pertanyaan yang diajukan dengan tenang dan hati-hati demi hasil yang memuaskan. Wawancara tersebut selesai dalam waktu 20 menit, setelah ini aku masih harus menunggu untuk tahap pemeriksaan kesehatan. Setelah menunggu beberapa menit, aku kembali dipanggil untuk tahap selanjutnya. Pada tahap ini pun tidak mendapatkan hambatan dan semuanya berjalan dengan lancar.

“baik mas untuk hasil keseluruhan akan kami hubungi kembali”
“baik mba, terima kasih. Permisi”
Semua tahap telahku lewati dengan tenang tanpa rasa gugup seperti pesan ibu. Aku pulang ke rumah dengan wajah lelah dan sangat cape.
“gimana tadi mas?”
“alhamdulillah pak lancar”
“ga ada permasalahan kan mas?”
“ga ada pak, yaudah pak aku mau mandi dulu terus istirahat, pegel banget ini badanku”

Sebelum istirahat aku membersihkan badanku agar bisa beristirahat dengan nyaman, dan lupa untuk shalat, memohon petunjuk dan hasil yang maksimal.

Sambil menunggu hasil keputusan dari perusahaan aku membantu ibu mengerjakan pekerjaan rumah dan membuat kue yang nantinya akan dijual oleh kedua adikku. Denganku membantu ibu seperti ini aku lihat sudah ada kesenangan sendiri yang terlihat dari wajah ibu dan tentunya aku pun ikut senang melihat ibu seperti itu. Berhari-hari aku menunggu kabar dari perusahaan tersebut. Rasa putus asa sempat mendatangiku tapi ibu meyakiniku kalau aku diterima diperusahaan itu. Kesabaranku membuahkan hasil, beberapa hari kemudian aku mendapat kabar bahwa aku diterima menjadi karyawan kontrak di perusahaan itu di bagian accounting, sesuai dengan ilmu yang kudapat pada saat aku duduk dibangku sekolah menengah atas. Puji syukur tak henti-hentinya kupanjatkan kepada Allah SWT atas semua yang telah ia berikan padaku.

“bu... aku diterima bu...”
“alhamdulillah mas” ucap syukur ibu sambil meneteskan air mata bahagia.

Dihari pertama ku bekerja, aku mengenal teman-teman dan lingkungan baruku yang nantinya akan menjadi bagian dalam duniaku. Pekerjaan-pekerjaan yang aku kerjakan sudah tidak asing lagi bagiku, sehingga aku tidak mendapatkan kesulitan pada saat mengerjakannya. Baru saja beberapa hari bekerja disitu aku sudah merasakan kenyamanan seperti dalam lingkungan yang sudah lama ku kenal. Kesenanganku saat ini tak lepas dari bantuan bu Dewi yang telah menghubungkanku dengan duniaku saat ini. Sepulang kerja aku berencana ingin mengunjungi rumah bu Dewi untuk mengucapkan terima kasih. Ketika waktu pulang aku segera bergegas meninggalkan kantor, tapi sebelum ke rumah beliau aku mampir kesebuah toko untuk membeli beberapa bingkisan sebagai ucapan terima kasihku.

“Assalamu’alaikum...”
“Walaikumsalam...”
“ibu maaf ganggu”
“oh Adi, masuk di masuk”
“iya bu...”

Bu Dewi dengan baju dasternya sangat berbeda dengan bu Dewi pada saat memakai seragam dinas dan make up. Selain mengucapkan terima kasih aku juga menceritakan dunia kerjaku saat ini.

“makanya bu saya mau berterima kasih banget sama ibu, tanpa bantuan ibu Adi ga akan bisa kaya gini”
“udah jadi kewajiban ibu sebagai guru untuk bantu muridnya di”

Kata-kata sederhana dari bu Dewi mempunyai banyak makna yang terkandung didalamnya. Beliau benar-benar pahlawan bagiku dan keluargaku.

Semenjak aku bekerja disana perekonomian keluargaku menjadi membaik. Ibu tidak perlu lagi menjadi buruh cuci untuk membiayi kehidupan kami sehari-hari, adik-adikku tidak lagi berjualan kue disekolah mereka ku fokuskan untuk belajar dan sekarang bapak sudah mempunyai pekerjaan tetap sebagai supir pribadi. Di kantor aku mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikanku ke tingkat yang lebih tinggi. Tentu saja seperti impianku untuk melanjutkan kuliah seperti teman-temanku yang lain.

“saya minta kamu harus pandai membagi waktu antara pekerjaan dan pendidikanmu ya di, ini semua demi perusahaan kita”
“baik pak”

Kini aku melanjutkan kuliah disebuah universitas swasta jurusan Akuntansi. Meskipun tidak sesuai dengan impianku seutuhnya tapi tidak menyurutkan semangatku untuk terus belajar dan bekerja keras, demi karirku dan demi keluargaku.

Dia tetaplah sahabatku...

Kisah persahabatan memang tidak akan ada akhirnya. Arti sebuah persahabatan yang sampai saat ini masih sangat terasa dan mungkin tidak akan terlupakan. Serumit apapun itu tetap akan terselesaikan dengan kebersamaan yang abadi. Kisah ini dimulai saatku duduk dibangku Sekolah Menengah Atas. Aku dan 5 sahabat baikku Handa, Ayu, Octa, Lia dan Susan selalu bersama. Tak tahu sejak kapan kami jadi sedekat ini. Mungkin ada beberapa kesamaan dari kami yang menjadikan kami menjadi sahabat seperti sekarang ini. Mulai dari kelas yang sama sampai organisasi yang kami ikuti.

Walaupun pada dasarnya manusia memiliki sifat dan karakter yang berbeda kami selalu mencoba menyamaratakannya. Handa temanku yang gendut ini ahli dalam pelajaran Matematika, memiliki sifat yang sedikit keras dan berpendirian kuat. Ayu temanku yang ahli debat pada pelajaran Kewarganegaraan ini adalah tipe orang yang segala sesuatunya dipikirkan dengan sangat rasional dan logis. Octa sahabatku yang paling imut diantara yang imut dan bisa dibilang kembang sekolah ini merupakan sosok yang mandiri tapi manja. Lia si jangkung yang merupakan kembaran jauhnya salah satu artis remaja (baca:Mikha Tambayong) sangatlah lembut baik dari kelakuannya maupun cara bicaranya tapi jangan samakan pada saat dia marah, beda 180 derajat. Yang terakhir Susan, temanku yang memiliki ciri khas dari bentuk matanya yang agak sipit itu orangnya sedikit linglung dan sedikit lama dalam menyerap perbincangan apabila kami sedang berkumpul. Dan aku? Aku hanyalah gadis yang sedikit gemuk dan sangat menyukai olahraga basket.


Suatu saat persahabatan kami pun mendapatkan cobaannya. Octa mendapatkan sedikit masalah dalam keluarganya hingga dia menjadi sedikit tertutup pada kami, ditambah lagi dengan pacar baru Octa yang membuat kelakuan Octa semakin aneh.

“ta lu kok jadi beda sekarang?” tanyaku pada Octa.
“ga ada apa-apa ko Wid”
“gue yakin lo ada apa-apa, cerita dooooong”
“hem, tapi janji ya jangan bilang siapa-siapa?”
“iye ta”

Setelah menyetujui permintaan Octa, diapun menceritakan semuanya yang selama ini ia tutup-tutupi dari kami. Pacar Octa yang awalnya diperkenalkan oleh mamanya merupakan sosok laki-laki yang umurnya terpaut jauh diatasnya dan merupakan seorang single parents dengan dua orang anak.

“Ha? Terus?”
“ya gitu, gue udah sayang banget sama dia Wid”
“nyokap lo tau kalo dia punya anak?”
“ya iyalah, kan nyokap gue yang ngenalin”
“hem... bagus deh kalo nyokap lo tau, takutnya nyokap lo ga tau. Terus?”
“terus apa lagi? Teras terus teras terus... kaya tukang parkir lo”
“hehe... maksud gue terus reaksi nyokap lo gimana?”
“fine fine aja, alhamdulillah”
“syukur deh kalo gitu”

Mendegar penjabaran Octa, diriku seperti tersetrum tegangan listrik. Tapi perasaanku sedikit lega karena orangtua Octa sudah terlibat didalamnya.

Suatu hari Ramdhan, pacar Octa datang ke sekolah untuk menjeputnya. Kedatangan Ramdhan itu pun menimbulkan sejumlah pertanyaan pada sahabat-sahabatku yang lain. Seolah tidak percaya, Handa pun menanyakannya pada Octa.

“ta itu cowo lo?”
“iya Han, kenapa?”
“hem... ga apa-apa hehe”

Sulit dipercaya setelah mengetahui hal itu, tapi aku sudah memperkirakan dan membayangkannya setelah Octa menceritakan yang sebenarnya tentang pacarnya itu.

Hubungan sahabatku dengan pacarnya itu makin hari kudengar makin baik. Tidak ada sesuatu yang membuat sahabatku jadikan masalah. Kami pun menjalankan aktivitas kami seperti biasa bersama-sama. Di tingkat akhir pada Sekolah Menegah Atas kami ini, kami mempunyai target untuk mencapai nilai yang maksimal. Kegiatan kami di organisasi yang kami ikuti sudah mulai kami tinggalkan demi menjaga konsentrasi kami pada pelajaran yang nanti akan diujiankan. Namun ada yang sedikit berbeda pada Octa, akhir-akhir ini ia sering tidak masuk sekolah dengan berbagai alasan. Kami takut terjadi apa-apa pada sahabat kami itu.

“cek ibu kontrakan lo ga masuk lagi?” tanya Ayu
“iya semalem dia sms katanya dia sakit, asam lambungnya tinggi”
“ya Allah, sebentar lagi kan udah mau try out kasian kalo dia ga masuk terus. Takutnya dia ketinggalan pelajaran”
“iya sih tapi mau gimana lagi namanya juga orang sakit”

Melihat sikap dan kelakuan Octa menjadi pertanyaan besar untuk kami. Ada apa dengan Octa? Akhir-akhir ini ia jadi jarang masuk sekolah dan sangat membuat kami kahawatir.

Hari-hari disekolah tanpa 1 sahabat kami terasa sangat berbeda. Tempat duduk kami yang biasanya berjajar penuh, sekarang tidak. Pada saat makan dikantin, tidak ada lagi yang kami marahi karena makanannya penuh dengan sambal dan cuka. Keingin tahuanku pada keadaan Octa semakin besar dan aku memutuskan untuk menanyakannya lansung pada Octa melalui pesan singkat.

To : Octa
Ta, gimana kabar lo?
Kata Susan lo sakit lagi ya? GWS ya, biar bisa sekolah lagi n kumpul bareng kita2.
Udah kangen berat niiih !! :p


Tak lama kemudian Octa pun membalasnya, ia menceritakan alasan kenapa akhir-akhir ini tidak masuk sekolah sampai akhirnya ia menceritakan tentang keuarganya padaku. Sungguh tak menyangka dengan kondisi keluarganya saat ini. Tekanan batin yang ia rasakan dari sang mama menjadi salah satu masalah yang membuatnya tidak dapat fokus pada pelajaran sekolah.

From : Octa
Gue jadi bingun Wid sama nyokap gue sendiri. Yang jadi pertanyaan gue tuh buat apa awalnya dia ngenalin gue sama Ramdhan kalo sekarang gue suruh ngejauhin dia.
Udah gitu kelakuan nyokap gue sekarang2 ini makin aneh...


Penjelasan panjang Octa cukup membuatku simpati pada keadaannya sekarang ini. Aku tidak bisa membayangkan bila aku yang ada diposisinya. Mendapat tekanan batin dari orangtua sendiri untuk melepaskan orang yang kita sayang dalam keadaan yang tidak sehat. Sungguh suatu keadaan yang sangat rumit.

From : Octa
Gue mohon lo jangan bilang ato kasih tau siapa pun tentang ini ya Wid...


Aku hanya bisa menjaga rahasia yang sudah Octa percayakan padaku, hanya itu yang bisa ku lakukan demi sahabatku.

Setelah hari penuh curhatan via telepon seluler itu Octa kembali masuk sekolah. Kami kembali merasakan kelengkapan yanng biasanya terasa sepi tanpa Octa.

“tau ga, lo tuh kaya setan. Hari ini sama besok masuk, ntar kaga, ntar masuk lagi, ntar kaga lagi” ledek Handa pada Octa.
“hehe... ya maklumlah namanya juga artis, sibuk!” jawab Octa dengan nada seperti artis yang super sibuk.

Melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Octa serentak mengundang tawa kami. Suatu moment yang sangat aku rindukan, saat berkumpul dengan orang-orang yang aku sayang. Tapi sayang tak berapa lama kemudian Octa kembali tidak masuk sekolah. Susan kembali mendapat sms dari Octa bahwa ia sakit lagi. Kali ini sangat membuat kami panik, karena 2 hari lagi akan diadakan try out terakhir pra Ujian Nasional. Pulang sekolah kami bermaksud berkunjung ke rumah Octa untuk memberikan kartu peserta try out dan mengantarkan buku latihan untuk belajarnya nanti. Seperti yang sudah direncanakan setelah bel pulang sekolah berbunyi kami langsung menuju rumah Octa yang tidak terlalu jauh dari sekolah.

Sesampainya dirumah Octa kami disambut oleh mamanya yang kebetulan membuka usaha dihalaman rumahnya.

“Octanya mana?” tanya mama Octa pada kami
Pertanyaan mama Octa yang singkat membuat kami sangat kaget. Seketika pertanyaan-pertanyaan tentang Octa hinggap di otak kami. Kami saling memandang satu sama lain dengan wajah kaget dan sangat tidak percaya.
“emm... tadi sih Octanya pulang duluan tante” jawab Ayu ragu
“pulang sama siapa dia? Sama Ramdhan ya?”
“kurang tau tuh tante, tadi pas Octa pulang kita masih dikelas”

Mendengar jawaban Ayu, orangtua Octa sedikit menggerutu tentang anaknya itu. Sangat diluar dugaan, tiba-tiba sang mama menceritakan semua tentang Octa sejak ia duduk di bangku SMP sampai dengan saat ini. Mendengar cerita mama Octa membuatku sangat bingung, karena apa yang kudengar saat ini dengan yang Octa ceritakan terdapat kejanggalan. Penasaran dengan keberadaan anaknya, orangtua Octa pun mencoba menghubungi Octa. 1 kali, 2 kali, 3 kali tidak ada respon dari sang penerima dan akhirnya mama Octa menghubugi Ramdhan. Tapi Ramdhan berkata bahwa ia sedang tidak bersama Octa. Kepanikan kami makin menjadi-jadi mendengar kabar tersebut dan demikian dengan mama Octa. Kami semua mengkhawatirkan Octa, kami takut hal-hal yang buruk menimpanya diluar sana. Setelah menunggu beberapa saat kami memutuskan untuk pulang. Selama perjalanan pulang fikiran kami terus menerus di kelilingi tentang Octa, kami hanya berharap tidak terjadi apa-apa padanya.

Malamnya, Octa mengirimkan sebuah pesan singkat yang isinya adalah ucapan terima kasih tapi diikuti dengan kata-kata kesal. Membaca pesan itu sontak membuatku bingung, kenapa akhirnya jadi begini? Niat kami yang hanya ingin mengetahui keadaan sahabat kami berakhir dengan kemarahan dan kekesalan Octa.

Kenapa jadi gini? Gue sama yg lain cuma khawatir sama lo, ta...

Keesokan harinya sikap Octa berubah 180 derajat dari biasanya. Sekarang ia menjadi jutek dan dingin pada kami. Memperhatikan hal tersebut tentu saja membuat kami kebingungan setengah mati.

“kok dia jadi gitu sih?” tanya Handa agak sewot
“ga tau gue, tadi dari tadi pagi juga diem-dieman gue sama dia” jawab Susan bingung
“mungkin dia marah sama kita gara-gara udah masuk ke privasinya” timbrung Ayu
“kita bukan ganggu privasinya tapi kita tuh care sama dia” tambah Lia yang selama ini seakan bungkam

Mendengar pendapat mereka aku hanya bisa diam, tidak tahu harus berbuat apa supaya Octa kembali menjadi seperti semula.

Antara kami dan Octa makin hari semakin jauh, tidak seperti dulu. Hal tersebut terus berlangsung hingga Ujian Nasional tiba. Ia yang mendapat tempat duduk dibarisan paling depan memudahkan kami terutama aku mengontrolnya selama ujian berlangsung. Selama ujian berlangsung kami melihat tidak ada kesulitan yang berarti pada sahabat kami itu. Waktunya pengumuman nilai-nilai ujian pun tiba. Kami (tanpa Octa) berlari kesana kemari mencari nilai hasil belajar kami selama 3 tahun yang ditentukan dari Ujian yang sebulan lalu kami laksanakan.

“gue liat, gue liat...” ucapku sambil memasuki kerumunan teman-teman sekelasku yang sedang melihat hasilnya masing-masing.
“nanti aja Wid, kalo udah pada puas baru kita yang puas-puasin” beritahu Ayu padaku.

Aku segera mundur dan keluar dari kerumunan kecil yang sangat padat itu dan berpesan pada Wira sang ketua kelas untuk memberikan hasil itu padaku setelah semua teman-teman melihat hasilnya. Ekspresi yang bermacam-macam pun terlihat jelas dari raut wajah teman-temanku yang lain setelah melihat hasil itu, dan sampai akhirnya giliran kami tiba untuk melihat hasilnya. Ekspresi senang langsung terpancar dari sahabat-sahabatku namun keceriaan terhenti sejenak setelah melihat hasil Octa.

“ya Allah...”
“kenapa yu?”
“liat nih...” sambil menunjuk ke suatu nama yang sangat akrab dengan kami

Octavia
Bahasa Indonesia ...
Bahasa Inggris ...
Matematika ...
Kompetensi Kejuruan ...


Melihat hasil sahabatku sungguh menghapus semua kegembiraan kami, meskipun ia dinyatakan lulus tapi sebagai sahabat kami merasa gagal dalam menjalin solidaritas diantara kami berenam. Kabar tentang sahabat kami semenjak pengumuman itu menjadi simpang siur tidak jelas. Ada yang mengatakan dia sudah pindah rumah, sudah bekerja dan lain-lain. Begitu aku dan Ayu mencoba menghubunginya tak ada nomor telepon yang bisa kami hubungi, hilang dan tak tahu kemana. Bahkan pada perpisahan sekolah pun dia tidak datang menampakkan batang hidungnya, kami hanya bisa menghela napas dan berharap segera bertemu dengan Octa.

Setelah lulus kami pun sibuk dengan dunia kami masing-masing. Aku, Ayu, Handa dan Susan sibuk dengan kuliah sedangkan Lia sibuk dengan kerjanya, dan Octa... sampai saat ini belum ada kabarnya. Masalah tentang sahabat kami sudah mulai terhapuskan dari benak kami karena kesibukkan kami masing-masing dan sampai pada suatu hari...

From : Handa
Dud telpon gue sekarang!


Setelah membacanya aku segera mengikuti instruksi dari pesan tersebut. Handa memberitahukan bahwa sekarang Octa sedang hamil 8 bulan dan ia ingin kami berkumpul dirumahnya. Mendengar kabar tersebut spontan aku sangat kaget dan tidak percaya, kami memutuskan hari ini juga berkunjung ke kediaman Octa sekarang. Namun Ayu, Susan dan Lia tidak bisa ikut dikarenakan kesibukannya masing-masing. Rasa penasaran sangat menyelimutiku saat ini, ingin rasanya segera melihat Octa yang sudah sekian lama tidak bertemu. Dipersimpangan jalan kami menunggu Octa, dan tak lama kemudian ia muncul. Seorang perempuan kecil dengan kondisi perut besar memakai jaket besar, sulit kupercaya kalau itu adalah Octa. Badan yang gemuk seperti ibu hamil pada umumnya terlihat jelas pada sahabat kami yang sudah lama tidak bertemu.

“Widi, Handa...” panggil Octa dengan suara khasnya sambil melambaikan tangan pada kami. Kami membalas panggilan dan lambaian tangannya itu.

Setelah itu kami dibawa kesebuah rumah kontrakan yang tidak jauh dari tempat kami bertemu. Kontrakan Octa dan suaminya Ramdhan yang berada di depan gang.

“ayo masuk masuk, maap ya kalo kecil” ajak Octa
“ga apa-apa kali ta, yang penting ada tempat tinggal” jawab Handa

Pertemuan kami kali itu adalah pertemuan setelah pengumuman kelulusan sekolah. Berbulan-bulan tidak bertemu dan ternyata ia sedang mempersiapkan diri menjadi seorang ibu. Pertanyaan demi pertanyaan seputar dirinya terus kami tanyakan pada sang narasumber. Mulai dari kabarnya hingga keadaan rumah tangga barunya.

“ya sekarang gue udah tenang soalnya udah punya temen hidup hehe” ucap Octa

Beberapa hari kemudian Lia da Susan ikut bersamaku dan Handa ke kediaman Octa yang baru. Suasana yang sudah lama tak kami rasakan kini kembali kurasakan bersama sahabat-sahabatku. Dan kini Octa telah melahirkan anak pertamanya, anak laki-laki yang sangat lucu dan aktif seperti ibunya. Kini kekhawatiranku dan yang lain terbayar sudah. Octa yang bahagia dengan kehidupan barunya sebagai seorang istri dan seorang ibu memberikan pelajaran yang sangat bermakna bagi kami. Bagaimana pun keadaan dan kondisi sahabat kita saat ini, dia tetaplah sahabatku yang ada disetiap senang dan sedihku.