Trotoar merupakan fasilitas yang disediakan oleh pemerintah untuk memudahkan dan menjamin keamanan pejalan kaki. Maka menindak hal tersebut pemerintah khususnya bagian lalu lintas baik kota maupun kabupaten yang daerahnya mempunyai volume kepadatan dan kendaraannya tinggi mensiasatinya dengan memisahkan pejalan kaki dari arus kendaraan bermotor. Permukaan yang lebih tinggi dibandingkan dengan jalan raya dibuat agar keselamatan dari pejalan kaki tersebut terjamin. Bahkan ada beberapa daerah di Indonesia yang memasangkan pagar pembatas pada sisi trotoar yang terhubung langsung dengan jalanan kendaraan bermotor.
Namun apakah jadinya bila salah satu fasilitas pejalan kaki ini disalahgunakan? Meskipun sudah mempunyai jalurnya masing-masing tapi masih saja ada pengguna kendaraan bermotor yang menggunakan fasilitas ini. Bermula dari satu pengendara motor yang tidak sabar menghadapi kemacetan kemudian ia mengambil jalan pintas dengan menaiki permukaan trotoar yang dikiranya dapat mengurangi kepadatan lalu lintas. Melihat tindakan orang tersebut para pengendara yang lain (kendaraan roda dua) menirukan hal serupa untuk menghindari kemacetan lalu lintas. Lalu bagaimana dengan nasib pejalan kaki yang seharusnya menikmati fasilitas tersebut? Sudah berbagai cara dilakukan untuk menertibkan hal ini, mulai dari penjagaan yang dilakukan oleh pihak kepolisian maupun petugas lalu lintas sampai dengan pembuatan pagar pembatas.
Melihat keadaan tersebut tak sedikit para pejalan kaki yang turun kebahu jalan. hal yang seharusnya tidak terjadi kalau saja tidak ada pengendara yang berulah Nakal. Para pejalan merasa risih dengan kendaraan yang berlalu lalang di trotoar, terkadang ada seorang pengendara yang nekat dengan menerobos kerumunan orang yang sedang berjalan. Hal tersebut juga terjadi pada salah satu pusat keramaian yang berada di Jakarta Kota. Trotoar yang berada di samping museum Fatahillah ini tak jarang di dinaiki oleh kendaraan bermotor sebagai jalan pintas menghindari macet. Mira (18) salah satu pengunjung juga mengungkapkan bahwa motor yang memasuki jalur pejalan kaki ini sungguh menggangu dan membahayakan keselamatan pejalan kaki.
Berpindah dari kendaraan bermotor, ternyata ada lagi yang dikiranya mengganggu kenyamanan pengguna trotoar, yaitu adanya pedagang kaki lima maupun pedagang emperan yang menjajakan barang dagangannya disepanjang trotoar. Keberadaan mereka menambah sempit jalur pejalan kaki yang seharusnya dapat berjalan dengan lancar. Bisa dibayangkan seperti apa jadinya bila diwaktu yang sama ada kendaraan bermotor yang melintas lalu dibarengi dengan keramaian transaksi jual beli ditrotoar tersebut, sungguh suatu keadaan yang sangat rumit dan juga membahayakan pengguna jalan. “sepertinya pedagang ditrotoar ini udah pada kebal sama penggusuran petugas. Biarpun udah digusur tapi tetep aja nantinya pada balik lagi” ungkap Sri salah satu pejalan kaki.
Standarisasi trotoar Indonesia yang kurang memenuhi kriteria juga menjadi salah satu pemberi nilai minus. Adanya pohon besar yang berada di tengah-tengah sepanjang trotoar selain memberikan pemandangan hijau dipinggir jalan ternyata juga dapat membahayakan dan menggangu pemakai trotoar. Bila dibandingkan dengan trotoar dinegara lain seperti Singapura. Disana jarang sekali ada pohon besar yang terdapat di trotoar, yang ada hanyalah tanaman dengan pot berukuran sedang. Ditambah lagi kondisi trotoar yang lebih terjaga dan terpelihara baik menjadi suatu aspek nilai tambah. Keadaan trotoar di Jakarta bila diperhatikan dengan seksama terdapat kekurangan yang dapat membahayakan penggunanya, seperti permukaan trotoar yang tidak rata dapat menyebabkan orang yang melewatinya tersandung. Meskipun sudah banyak orang yang membahas masalah ini namun tetap saja masih ada kondisi seperti itu.
Peran masyarakat dalam hal ini tak kalah penting dalam mewujudkan fasilitas umum yang satu ini menjadi sarana yang nyaman digunakan. Sedikit sekali masyarakat yang kurang peduli bahkan tidak peduli dengan kondisi trotoar di Indonesia. Padahal jika saja masyarakat bersedia membantu pemerintah dalam hal pelaporan tentang ketidak layakan atau penyalahgunaan pada fasilitas ini, akan menjadi suatu kerjasama yang bagus untuk menjadikan trotoar sebagai fasilitas yang nyaman digunakan.
Jumat, 17 Februari 2012
Senin, 06 Februari 2012
KRL EKONOMI JABODETABEK DI MINIMKAN ATAU DI ANAK TIRIKAN?
Dunia perkereta apian Indonesia wilayah Jabodetabek beberapa pekan yang lalu sudah melakukan semacam perubahan pada sistem operasi kereta dan jadwal keberangkatannya. Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan pelayanan pihak PT. KAI (persero) kepada pengguna jasa kereta api wilayah Jabodetabek. Beberapa sarana dan prasarana seperti gerbong kereta, stasiun dan lain sebagainya sudah mendapat sedikit perubahan dibandingkan sebelumnya. Salah satu dampak dari perubahan tersebut adalah minimnya jam operasi KRL ekonomi yang sudah menjadi transportasi favorit masyarakat Jabodetabek karena harganya yang sangat terjangkau.
Seperti yang sudah kita ketahui KRL ekonomi Jakarta Kota – Bogor merupakan kereta yang paling banyak peminatnya. Hal tersebut pastinya dikarenakan harga tiketnya yang sangat terjangkau dibandingkan dengan transportasi lainnya. Untuk jarak Jakarta Kota sampai Bogor ataupun sebaliknya hanya dikenakan biaya dua ribu rupiah (Rp. 2000,00). Namun dibalik murahnya harga yang diberikan sangat sebanding dengan fasilitas dan pelayanan yang diberikan oleh pihak PT. KAI. Tidak perlu dipungkiri lagi kelayakan gerbong ekonomi yang dioperasikan berada dibawah standar sarana transport yang semestinya. Jumlah penumpang yang melebihi kapasitas merupakan sebuah keadaan yang sudah biasa terjadi disetiap hari bahkan disetiap keberangkatannya. Bahkan tidak aneh lagi kalau ada penumpang yang naik ke atap kereta untuk menghindari kepadatan didalam rangkaian gerbong ekonomi.
sumber : google.com
Melihat secara kilas mata keadaan gerbong yang mungkin sudah berusia lebih dari 10 tahun itu tak hanya terlihat dari bagian luarnya saja yang terlihat kumuh tapi bila diperhatikan secara detail, sangat banyak ketidak layakan yang mengharuskan rangkaian KRL ekonomi tersebut diganti atau diperbaharui dengan gerbong yang selayaknya. Seperti contoh, keadaan di dalam gerbong yang kotor dan banyaknya pedagang yang lalu lalang sudah menjadi suatu kondisi yang lumrah bagi para penumpang yang biasa memakai fasilitas ekonomi ini. Belum lagi pengemis mulai dari anak kecil sampai lansia yang mencoba menarik simpati para penumpang. Namun para penumpang harus bisa terima dan membiasakan keadaan tersebut demi sampai ke tempat tujuan dengan cepat dan tidak perlu mengeluarkan banyak uang.
Rute kereta dengan sistem looping atau melingkar sempat membuat bingung para pengguna kereta. Misalnya bagi penumpang yang ingin menuju kearah Tanah Abang atau Jatinegara harus memakan waktu ekstra untuk dapat sampai ke tempat tujuan. Selain itu keterlambatan kereta sering dirasakan para penumpang tiap harinya. Kereta yang mogok pun menjadi salah satu alasan dari keterlambatan. Inikah yang dinamakan perubahan demi meningkatkan pelayanan terhadap pengguna kereta?
Pindah dari kemelut diluar rangkaian, sekarang coba kita perhatikan kenyamanan yang berada didalam rangkaian gerbong KRL ekonomi. Kebersihan yang kurang diperhatikan karena banyak pedagang kaki lima yang lalu lalang ditambah kurangnya kesadaran para penumpang untuk menjaga kebersihan didalamnya bisa dibilang menjadi salah satu penyebab utama kekumuhan tersebut. Pintu jendela yang macet menyulitkan penumpang untuk mengatur sirkulasi udara yang dibutuhkan, dan tidak sedikit kaca pada jendela yang retak bahkan pecah akibat ulah penumpang itu sendiri. Bagian yang paling kurang mendapat perhatian baik dari pihak pengelola maupun pengguna jasa transportasi tersebut adalah pijakan yang berada pada perbatasan gerbong KRL ekonomi yang terdapat lubang yang berada diantara kedua gerbong tersebut. Bayangkan bila ada penumpang yang melewatinya dan tidak tahu dengan keberadaan tersebut, maka akan yang akan terjadi? Tentunya akan membahayakan keselamatan penumpang itu sendiri.
Sekarang bandingkan dengan KRL commuter, keadaannya yang lebih terawat dan terjamin dibandingkan dengan KRL ekonomi. Hal itu terjadi terjadi tentu saja karena biaya yang dikenakan lebih mahal dari biaya ekonomi. Perbedaan harga lima ribu rupiah (Rp. 5000,00) dari harga tiket KRL ekonomi memberikan fasilitas dan kenyamanan yang lebih terjamin. Gerbong kereta yang lebih bersih, keamanan dan kenyamanan sangat terjamin karena adanya dua orang petugas keamanaan yang berjaga ditiap gerbongnya, dan yang pasti tidak akan menemukan hal-hal yang terdapat pada gerbong KRL ekonomi.
Dari hal-hal tersebut terlihatlah secara kontras perbedaan yang terdapat diantara keduanya. Salah satu alasan yang melatarbelakanginya adalah pihak PT. KAI mencoba meminimalisir jadwal pengoperasian KRL ekonomi wilayah Jabodetabek. Namun apakah dengan cara demikian pihak pengelola mengatasi agar masyarakat berpindah dari KRL ekonomi ke KRL commuter? Mengorbankan penumpang KRL ekonomi dengan ketidak nyamanan yang diberikan atas harga tiket yang mereka beli dengan harga yang murah.
Seperti yang sudah kita ketahui KRL ekonomi Jakarta Kota – Bogor merupakan kereta yang paling banyak peminatnya. Hal tersebut pastinya dikarenakan harga tiketnya yang sangat terjangkau dibandingkan dengan transportasi lainnya. Untuk jarak Jakarta Kota sampai Bogor ataupun sebaliknya hanya dikenakan biaya dua ribu rupiah (Rp. 2000,00). Namun dibalik murahnya harga yang diberikan sangat sebanding dengan fasilitas dan pelayanan yang diberikan oleh pihak PT. KAI. Tidak perlu dipungkiri lagi kelayakan gerbong ekonomi yang dioperasikan berada dibawah standar sarana transport yang semestinya. Jumlah penumpang yang melebihi kapasitas merupakan sebuah keadaan yang sudah biasa terjadi disetiap hari bahkan disetiap keberangkatannya. Bahkan tidak aneh lagi kalau ada penumpang yang naik ke atap kereta untuk menghindari kepadatan didalam rangkaian gerbong ekonomi.
sumber : google.com
Melihat secara kilas mata keadaan gerbong yang mungkin sudah berusia lebih dari 10 tahun itu tak hanya terlihat dari bagian luarnya saja yang terlihat kumuh tapi bila diperhatikan secara detail, sangat banyak ketidak layakan yang mengharuskan rangkaian KRL ekonomi tersebut diganti atau diperbaharui dengan gerbong yang selayaknya. Seperti contoh, keadaan di dalam gerbong yang kotor dan banyaknya pedagang yang lalu lalang sudah menjadi suatu kondisi yang lumrah bagi para penumpang yang biasa memakai fasilitas ekonomi ini. Belum lagi pengemis mulai dari anak kecil sampai lansia yang mencoba menarik simpati para penumpang. Namun para penumpang harus bisa terima dan membiasakan keadaan tersebut demi sampai ke tempat tujuan dengan cepat dan tidak perlu mengeluarkan banyak uang.
Rute kereta dengan sistem looping atau melingkar sempat membuat bingung para pengguna kereta. Misalnya bagi penumpang yang ingin menuju kearah Tanah Abang atau Jatinegara harus memakan waktu ekstra untuk dapat sampai ke tempat tujuan. Selain itu keterlambatan kereta sering dirasakan para penumpang tiap harinya. Kereta yang mogok pun menjadi salah satu alasan dari keterlambatan. Inikah yang dinamakan perubahan demi meningkatkan pelayanan terhadap pengguna kereta?
Pindah dari kemelut diluar rangkaian, sekarang coba kita perhatikan kenyamanan yang berada didalam rangkaian gerbong KRL ekonomi. Kebersihan yang kurang diperhatikan karena banyak pedagang kaki lima yang lalu lalang ditambah kurangnya kesadaran para penumpang untuk menjaga kebersihan didalamnya bisa dibilang menjadi salah satu penyebab utama kekumuhan tersebut. Pintu jendela yang macet menyulitkan penumpang untuk mengatur sirkulasi udara yang dibutuhkan, dan tidak sedikit kaca pada jendela yang retak bahkan pecah akibat ulah penumpang itu sendiri. Bagian yang paling kurang mendapat perhatian baik dari pihak pengelola maupun pengguna jasa transportasi tersebut adalah pijakan yang berada pada perbatasan gerbong KRL ekonomi yang terdapat lubang yang berada diantara kedua gerbong tersebut. Bayangkan bila ada penumpang yang melewatinya dan tidak tahu dengan keberadaan tersebut, maka akan yang akan terjadi? Tentunya akan membahayakan keselamatan penumpang itu sendiri.
Sekarang bandingkan dengan KRL commuter, keadaannya yang lebih terawat dan terjamin dibandingkan dengan KRL ekonomi. Hal itu terjadi terjadi tentu saja karena biaya yang dikenakan lebih mahal dari biaya ekonomi. Perbedaan harga lima ribu rupiah (Rp. 5000,00) dari harga tiket KRL ekonomi memberikan fasilitas dan kenyamanan yang lebih terjamin. Gerbong kereta yang lebih bersih, keamanan dan kenyamanan sangat terjamin karena adanya dua orang petugas keamanaan yang berjaga ditiap gerbongnya, dan yang pasti tidak akan menemukan hal-hal yang terdapat pada gerbong KRL ekonomi.
Dari hal-hal tersebut terlihatlah secara kontras perbedaan yang terdapat diantara keduanya. Salah satu alasan yang melatarbelakanginya adalah pihak PT. KAI mencoba meminimalisir jadwal pengoperasian KRL ekonomi wilayah Jabodetabek. Namun apakah dengan cara demikian pihak pengelola mengatasi agar masyarakat berpindah dari KRL ekonomi ke KRL commuter? Mengorbankan penumpang KRL ekonomi dengan ketidak nyamanan yang diberikan atas harga tiket yang mereka beli dengan harga yang murah.
Kamis, 02 Februari 2012
IPK pertama gue !!!
ini Kartu hasil study gue di semester PERTAMA !!
kalo ini nilai murni UAS gue sebelum dipoles macem2 sama dosen2 tercintah :*
Rabu, 01 Februari 2012
Lantai Edukasi Museum Wayang
Museum Wayang Indonesia yang berlokasi di Jl. Pintu Besar Utara No. 27 merupakan museum yang menyimpan koleksi wayang dari daerah-daerah di Indonesia dan juga luar negeri. Jumlah koleksinya kurang lebih 5147 buah yang diperoleh dari pembelian, hibah, sumbangan dan titipan. Awalnya bangunan museum wayang ini merupakan lokasi gereja tua yang didirikan VOC pada tahun 1640 yang sampai tahun 1973 berfungsi sebagai tempat untuk peribadatan penduduk sipil dan tentara bangsa Belanda yang tinggal di Batavia.
Gagasan didirikannya Museum Wayang adalah ketika Gubernur DKI Jakarta H. Ali Sadikin ketika menghadiri pecan Wayang II tahun 1974. Dengan dukungan panitia acara tersebut, gubernur DKI Jakarta dengan para pecinta wayang, pemerintah DKI Jakarta menunjuk gedung yang terletak di Jl. Pintu Besar Utara No. 27 sebagai Museum Wayang dan museum tersebut diresmikan pada tanggal 13 Agustus 1975 oleh Gubernur DKI Jakarta H. Ali Sadikin. Museum Wayang merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas Kebudayaan dan Permuseuman di bidang perwayangan terakhir berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Propinsi DKI Jakarta Nomor 134 tahun 2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Propinsi DKI Jakarta (BAB VIII, Pasal 33, 1)
Namun kali ini kita tidak akan membahas tentang sejarah museum wayang ataupun wayangnya itu sendiri melainkan kita akan membahas tentang salah satu keunikan yang terdapat pada Museum Wayang. Pernah kah kalian memperhatikan dengan seksama tentang museum wayang secara terperinci? Apa keunikan yang kalian temukan pada Museum Wayang? Salah satu keunikan yang terdapat pada Museum Wayang yang mungkin saja jarang ada orang yang menyadarinya adalah gambar yang terdapat pada lantai museum yang berada di lantai 3.
Beberapa bentuk persegi panjang berukuran 300cm x 500cm yang berada di lantai museum tersebut didalamnya terdapat contoh-contoh gambar bagian-bagian tubuh wayang yang berbeda-beda. Gambar yang tersebut antara lain: bentuk jari, bentuk wajah, bentuk mata, bentuk pinggul, bentuk hidung (irung-irungan), bentuk kaki (suku), bentuk mulut (cangkeman), badan dengan baju, selendang dan kalung, bentuk badan, bentuk tutup kepala, bentuk gelung rambut putri, dan masih banyak lagi.
Riva’i (42) pegawai Museum Wayang mengungkapkan bahwa tujuan adanya gambar pada lantai tersebut adalah untuk memberikan dan berbagi pengetahuan seputar perwayangan. Karena telah kita ketahui bahwa wayang merupakan salah satu asset budaya bangsa Indonesia. Dan kenapa gambar-gambar tersebut adanya dilantai museum karena ingin memberikan keunikan tersendiri pada museum wayang. Tidak hanya memamerkan berbagai jenis wayang tapi juga ingin memberikan pengetahuan lebih tentang wayang Indonesia itu sendiri.
Sebagian besar pengunjung museum wayang ini memang kurang menyadari adanya lantai edukasi ini. Selain karena letaknya berada di lantai museum yamg jarang diperhatikan oleh pengunjung selain itu juga karena posisinya yang menyerong dan ada sebagian gambar yang tertutupi oleh papan-papan penyekat.
Namun tidak sedikit juga orang yang menyadari keberadaan lantai edukasi ini. Seperti Mahmud misalnya, siswa kelas XI dari Bekasi ini tertarik dengan keunikan yang ada di museum wayang ini. Ia berpendapat bahwa dengan adanya lantai edukasi wayang ini, ia menjadi lebih tahu seputar wayang khususnya bagian-bagian dari wayang itu sendiri yang merupakan warisan budaya Indonesia. “gak nyangka ternyata bagian-bagian tubuh dari wayang itu beda-beda. Misalnya dibagian penggambaran hidungnya aja ada beberapa macem. Unik banget buat dipelajari!” perjelas Mahmud tentang tanggapan terhadap lantai edukasi tersebut.
Gagasan didirikannya Museum Wayang adalah ketika Gubernur DKI Jakarta H. Ali Sadikin ketika menghadiri pecan Wayang II tahun 1974. Dengan dukungan panitia acara tersebut, gubernur DKI Jakarta dengan para pecinta wayang, pemerintah DKI Jakarta menunjuk gedung yang terletak di Jl. Pintu Besar Utara No. 27 sebagai Museum Wayang dan museum tersebut diresmikan pada tanggal 13 Agustus 1975 oleh Gubernur DKI Jakarta H. Ali Sadikin. Museum Wayang merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas Kebudayaan dan Permuseuman di bidang perwayangan terakhir berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Propinsi DKI Jakarta Nomor 134 tahun 2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Propinsi DKI Jakarta (BAB VIII, Pasal 33, 1)
Namun kali ini kita tidak akan membahas tentang sejarah museum wayang ataupun wayangnya itu sendiri melainkan kita akan membahas tentang salah satu keunikan yang terdapat pada Museum Wayang. Pernah kah kalian memperhatikan dengan seksama tentang museum wayang secara terperinci? Apa keunikan yang kalian temukan pada Museum Wayang? Salah satu keunikan yang terdapat pada Museum Wayang yang mungkin saja jarang ada orang yang menyadarinya adalah gambar yang terdapat pada lantai museum yang berada di lantai 3.
Beberapa bentuk persegi panjang berukuran 300cm x 500cm yang berada di lantai museum tersebut didalamnya terdapat contoh-contoh gambar bagian-bagian tubuh wayang yang berbeda-beda. Gambar yang tersebut antara lain: bentuk jari, bentuk wajah, bentuk mata, bentuk pinggul, bentuk hidung (irung-irungan), bentuk kaki (suku), bentuk mulut (cangkeman), badan dengan baju, selendang dan kalung, bentuk badan, bentuk tutup kepala, bentuk gelung rambut putri, dan masih banyak lagi.
Riva’i (42) pegawai Museum Wayang mengungkapkan bahwa tujuan adanya gambar pada lantai tersebut adalah untuk memberikan dan berbagi pengetahuan seputar perwayangan. Karena telah kita ketahui bahwa wayang merupakan salah satu asset budaya bangsa Indonesia. Dan kenapa gambar-gambar tersebut adanya dilantai museum karena ingin memberikan keunikan tersendiri pada museum wayang. Tidak hanya memamerkan berbagai jenis wayang tapi juga ingin memberikan pengetahuan lebih tentang wayang Indonesia itu sendiri.
Sebagian besar pengunjung museum wayang ini memang kurang menyadari adanya lantai edukasi ini. Selain karena letaknya berada di lantai museum yamg jarang diperhatikan oleh pengunjung selain itu juga karena posisinya yang menyerong dan ada sebagian gambar yang tertutupi oleh papan-papan penyekat.
Namun tidak sedikit juga orang yang menyadari keberadaan lantai edukasi ini. Seperti Mahmud misalnya, siswa kelas XI dari Bekasi ini tertarik dengan keunikan yang ada di museum wayang ini. Ia berpendapat bahwa dengan adanya lantai edukasi wayang ini, ia menjadi lebih tahu seputar wayang khususnya bagian-bagian dari wayang itu sendiri yang merupakan warisan budaya Indonesia. “gak nyangka ternyata bagian-bagian tubuh dari wayang itu beda-beda. Misalnya dibagian penggambaran hidungnya aja ada beberapa macem. Unik banget buat dipelajari!” perjelas Mahmud tentang tanggapan terhadap lantai edukasi tersebut.
Minggu, 29 Januari 2012
ARTIS dan KACAMATA-nya
Hey guys, i,m back with my article! Setelah sekian lama vacum (bukan vacum cleaner) dari dunia peng-artikelan *ceileh bahasa gue* sekarang gue balik lagi buat ngebahas suatu bahasan yang baru aja gue sadarin. Oke langsung bahas aja yuk !
Pernah ga sih kalian perhatiin makin kesini makin banyak yang pake kacamata? Tapi bukan cuma kacamata minus ato plus tapi kacamata yang cuma buat sekedar gaya aja. Mulai dari kalangan anak-anak yang terlanjur gaul sampai ke kalangan artis jadi banyak yang seneng pake kacamata. Coba deh kalian perhatiin disekitar kalian, entah temen, kakak, adik, gebetan ato pacar kalian terutama LAKI-LAKI mulai maniac sama barang yang satu ini.
Sekarang pembahasan ini kita fokuskan ke para artis yang sering nongol di TV. Pernah ga sih nyadarin kalo kebanyakan ato hampir semua artis yang lagi tampil secara live pada pake kacamata? Padahal kalo diperhatiin sepintas cuacanya fine-fine aja, dalam arti sinar matahari ga terlalu mentereng banget ato padahal mereka tampilnya di dalam ruangan. Nah... hal ini nih yang pengen banget gue bahas bareng temen-temen gue. Gue sempet nanyain kebeberapa temen gue kaya gini nih:
“menurut lu kenapa sih artis ato penyanyi kalo tampil live kebanyakan pake kacamata?”
Dan respon dari temen-teman gue pun macem-macem, diantaranya nih...
“hanya untuk gaya... tren biar performnya kereen” (Herawati)
“silau kali. Taw matanya bengkak karena kurang tidur kebanyakan kerja” - @ariswinardy
“biar lebih kece B)” - @jeanchukong
“jaga images cz matanya masih ngantuk. Pengen bikin sensasi yang sesuatu” - @deacubbyendalov
“buat ngumpetin rasa cape dia kayanya mah.. cape kan biasanya keliatan dari mata..” - @ilhamafriansyah
Nah dari beberapa pendapat temen-temen gue itu udah jelas kali ya kalo artis-artis yang punya segudang kesibukan mulai dari manggung sana-sini sampai sinetron striping juga manusia yang punya kekurangan. Kebanyakan dari mereka pake kacamata karena untuk menutupi matanya yang sembab akibat kurang tidur seperti pendapat salah satu sahabat gue ini:
”ehm, bisa ja buat gaya atau buat nutupin sembab2 di matanya, kan banyak artis yang manggung sana sini, jadi ke forsir waktu2nya apalagi buat sekedar merem, susah..” (Aska Wibianto)
Kacamata yang dipake pun memiliki berbagai macam bentuk dan ukuran. Ada yang bentuknya bulat, kotak, oval dan bentuk-bentuk lain yang unik. Sedangkan untuk ukurannya pun macem-macem mulai dari kacamata sekecil boboho sampe segede kaca nako. Dari bentuk dan ukuran itulah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk memakainya. Sekarang ini model kacamata yang lagi trend balik lagi ke jaman-jamannya bokap nyokap kita di era ’80-an. Model kacamata jengkol ato yang gue bilang kaca nako itu sekarang lebih banyak peminatnya, apalagi sekarang modelnya lebih divariasiin dan warnanya pun banyak pilihannya.
Oh iya kalian tau ga, ada artis yang jadi ketergantungan pake kacamata dan bahkan katanya sampai mempengaruhi penglihatannya kalo dia ga pake kacamata. Kalian pasti tau dong siapa orangnya? Yap, Ian Kasela. Vokalis dari grup band Radja ini tidak bisa keluar rumah tanpa memakai kacamata hitamnya, bahkan dirumahnya pun ia tetap memakainya. Selain itu koleksi kacamata yang ia miliki pun sudah mencapai jumlah yang luar biasa. Mulai dari kacamata yang banyak dijual diemperan toko yang harganya 25 ribuan sampe jutaan pun dia punya. WOW!!
Gue punya sedikit tips buat kalian yang mau pake kacamata.
1. Untuk pemilihan ukuran kacamata sesuaikan dengan bentuk wajah kalian. Jangan sampe salah pake coz nanti akan berefek sama penampilan kalian. Untuk yang bentuk wajahnya bulat gue saranin pake kacamata yang bentuknya oval atau kotak dan untuk wajah oval ga ada salahnya buat pake kacamata yang model kaca nako biar ada sedikit perpaduan pada wajah kalian yang panjang.
2. Warna kacamata sesuaikan dengan warna kulit dan kalo bisa sesuaikan dengan pakaian dan acaranya. Kalo pada kacamata itu terdiri dari beberapa warna pilihlah warna yang kiranya ga terlalu nabrak banget coz biar enak diliat juga.
3. Buat yang punya warna kulit sedikit ato bahkan gelap *kaya gue* jangan sekali-kali pake warna bingkai yang mentereng. Contohnya: putih. Pake warna yang relatif gelap kaya abu-abu, cokelat ato hitam.
4. Pakailah bentuk kacamata yang normal maksudnya jangan terlalu neko-neko. Jangan terlalu berpatok pada yang kita inginkan tapi inget ke poin-poin sebelumnya ya!
Nah... sekarang udah jelas banget kan kenapa sekarang artis-artis pake kacamata kalo lagi perform live? Itu karena mereka menutupi matanya yang sembab akibat kurang istirahat dan ga sedikit juga yang pake kacamata hanya untuk gaya demi memaksimalkan penampilannya ato menutupi kekurangan mereka. Buat kalian yang mau bergaya seperti artis-artis kita ga ada salahnnya ko selama kalian enjoy dan untuk penampilan kalian no problem. Tapi ingat jangan terlalu berlebihan coz nanti bukannya keliatan kece malah keliatan aneh.
Pernah ga sih kalian perhatiin makin kesini makin banyak yang pake kacamata? Tapi bukan cuma kacamata minus ato plus tapi kacamata yang cuma buat sekedar gaya aja. Mulai dari kalangan anak-anak yang terlanjur gaul sampai ke kalangan artis jadi banyak yang seneng pake kacamata. Coba deh kalian perhatiin disekitar kalian, entah temen, kakak, adik, gebetan ato pacar kalian terutama LAKI-LAKI mulai maniac sama barang yang satu ini.
Sekarang pembahasan ini kita fokuskan ke para artis yang sering nongol di TV. Pernah ga sih nyadarin kalo kebanyakan ato hampir semua artis yang lagi tampil secara live pada pake kacamata? Padahal kalo diperhatiin sepintas cuacanya fine-fine aja, dalam arti sinar matahari ga terlalu mentereng banget ato padahal mereka tampilnya di dalam ruangan. Nah... hal ini nih yang pengen banget gue bahas bareng temen-temen gue. Gue sempet nanyain kebeberapa temen gue kaya gini nih:
“menurut lu kenapa sih artis ato penyanyi kalo tampil live kebanyakan pake kacamata?”
Dan respon dari temen-teman gue pun macem-macem, diantaranya nih...
“hanya untuk gaya... tren biar performnya kereen” (Herawati)
“silau kali. Taw matanya bengkak karena kurang tidur kebanyakan kerja” - @ariswinardy
“biar lebih kece B)” - @jeanchukong
“jaga images cz matanya masih ngantuk. Pengen bikin sensasi yang sesuatu” - @deacubbyendalov
“buat ngumpetin rasa cape dia kayanya mah.. cape kan biasanya keliatan dari mata..” - @ilhamafriansyah
Nah dari beberapa pendapat temen-temen gue itu udah jelas kali ya kalo artis-artis yang punya segudang kesibukan mulai dari manggung sana-sini sampai sinetron striping juga manusia yang punya kekurangan. Kebanyakan dari mereka pake kacamata karena untuk menutupi matanya yang sembab akibat kurang tidur seperti pendapat salah satu sahabat gue ini:
”ehm, bisa ja buat gaya atau buat nutupin sembab2 di matanya, kan banyak artis yang manggung sana sini, jadi ke forsir waktu2nya apalagi buat sekedar merem, susah..” (Aska Wibianto)
Kacamata yang dipake pun memiliki berbagai macam bentuk dan ukuran. Ada yang bentuknya bulat, kotak, oval dan bentuk-bentuk lain yang unik. Sedangkan untuk ukurannya pun macem-macem mulai dari kacamata sekecil boboho sampe segede kaca nako. Dari bentuk dan ukuran itulah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk memakainya. Sekarang ini model kacamata yang lagi trend balik lagi ke jaman-jamannya bokap nyokap kita di era ’80-an. Model kacamata jengkol ato yang gue bilang kaca nako itu sekarang lebih banyak peminatnya, apalagi sekarang modelnya lebih divariasiin dan warnanya pun banyak pilihannya.
Oh iya kalian tau ga, ada artis yang jadi ketergantungan pake kacamata dan bahkan katanya sampai mempengaruhi penglihatannya kalo dia ga pake kacamata. Kalian pasti tau dong siapa orangnya? Yap, Ian Kasela. Vokalis dari grup band Radja ini tidak bisa keluar rumah tanpa memakai kacamata hitamnya, bahkan dirumahnya pun ia tetap memakainya. Selain itu koleksi kacamata yang ia miliki pun sudah mencapai jumlah yang luar biasa. Mulai dari kacamata yang banyak dijual diemperan toko yang harganya 25 ribuan sampe jutaan pun dia punya. WOW!!
Gue punya sedikit tips buat kalian yang mau pake kacamata.
1. Untuk pemilihan ukuran kacamata sesuaikan dengan bentuk wajah kalian. Jangan sampe salah pake coz nanti akan berefek sama penampilan kalian. Untuk yang bentuk wajahnya bulat gue saranin pake kacamata yang bentuknya oval atau kotak dan untuk wajah oval ga ada salahnya buat pake kacamata yang model kaca nako biar ada sedikit perpaduan pada wajah kalian yang panjang.
2. Warna kacamata sesuaikan dengan warna kulit dan kalo bisa sesuaikan dengan pakaian dan acaranya. Kalo pada kacamata itu terdiri dari beberapa warna pilihlah warna yang kiranya ga terlalu nabrak banget coz biar enak diliat juga.
3. Buat yang punya warna kulit sedikit ato bahkan gelap *kaya gue* jangan sekali-kali pake warna bingkai yang mentereng. Contohnya: putih. Pake warna yang relatif gelap kaya abu-abu, cokelat ato hitam.
4. Pakailah bentuk kacamata yang normal maksudnya jangan terlalu neko-neko. Jangan terlalu berpatok pada yang kita inginkan tapi inget ke poin-poin sebelumnya ya!
Nah... sekarang udah jelas banget kan kenapa sekarang artis-artis pake kacamata kalo lagi perform live? Itu karena mereka menutupi matanya yang sembab akibat kurang istirahat dan ga sedikit juga yang pake kacamata hanya untuk gaya demi memaksimalkan penampilannya ato menutupi kekurangan mereka. Buat kalian yang mau bergaya seperti artis-artis kita ga ada salahnnya ko selama kalian enjoy dan untuk penampilan kalian no problem. Tapi ingat jangan terlalu berlebihan coz nanti bukannya keliatan kece malah keliatan aneh.
Langganan:
Postingan (Atom)

